Minggu, 27 Nov 2022
  • Ahlan wa sahlan di official website MTs Al Ma`had An Nur Bantul | Berprestasi, Berilmu, Berkepribadian Qur’ani, Unggul, dan Mandiri (PRESIDIUM)

Gebyar Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Santri Nasional di MTs Al-Ma’had An-Nur

Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammmad SAW dan Hari Santri Nasional (Kamis, 22/10), Yayasan Pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ma’had An-Nur mengadakan acara perayaan secara sederhana. Perayaan tahun ini agak sedikit berbeda dengan tahun lalu dikarenakan hanya dihadiri perwakilan santri MTs Al-Ma’had An-Nur, segenap dewan guru, dan tenaga kependidikan. Di samping itu, para hadirin diharuskan mematuhi protokol kesehatan mengingat Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. “Perayaan tahun ini diadakan secara sederhana dengan hanya dihadiri perwakilan santri MTs Al-Ma’had An-Nur, segenap dewan guru, dan tenaga kependidikan. Mereka pun diharuskan untuk mematuhi protokol kesehatan” tutur Pak Kirom. Meskipun demikian, keadaan tersebut tidak mengurangi semangat para hadirin untuk mengikuti acara tersebut. Hal itu terlihat ketika grup rebana An-Nur yang dipimpin Miss Widat mulai beraksi, seluruh orang di dalam ruangan tampak kompak, ramai dan asyik melantunkan selawat.

Perayaan tersebut dimulai tepat pada pukul 08.00 WIB, dengan sapaan hangat dari Cak Usman sebagai pembawa acara, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Quran yang menyayat sanubari oleh Miss Widat Ulya, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon oleh Ibu Alfina, pembacaan maulid Al-Barzanji yang dipimpin oleh Ustaz Mustajib dan Kyai Ngaliman serta sambutan hangat dari kepala madrasah, Bapak Abdul Kirom, S.Th.I, M.Hum, yang sangat menginspirasi dan mengesankan. Dalam sambutannya, beliau menuturkan “Kullu sababin wa nasabin munqathi’ illa sababi wa nasabi”, yang artinya bahwa (kelak) setiap sebab dan nasab (keturunan) itu terputus kecuali sebab dan nasabku. Dengan ungkapan lain, bahwa kelak di Hari Akhir tidak ada penolong bagi seseorang kecuali syafa’at Nabi Muhammad SAW dan ahlu bait. Oleh karena itu, dalam momen yang berharga tersebut beliau mengajak kepada para hadirin untuk meningkatkan mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW dan ahlu bait.

Acara berlangsung secara khidmat, tak terasa sampai pada acara inti, yaitu mauidhah hasanah. Dalam perayaan kali ini mauidhah hasanah disampaikan oleh beliau Al-Mukarram Romo KH. Muslim Nawawi. Secara sekilas, menurut pendek pandangan penulis, KH. Muslim Nawawi merupakan sosok kyai yang luwes, humoris dan gaul. Hal itu terlihat saat beliau menyampaikan mauidhah hasanah seringkali melontarkan lelucon, bahasa gaul dan berusaha menyapa serta memberikan pertanyaan. Gaya penyampaian yang demikian itu dinilai penulis mampu membuat seluruh hadirin fokus mendengarkan wejangan-wejangan beliau. Di samping itu, model ceramah yang seperti itu dapat menjauhkan dari suasana senyap dan setidaknya dapat menghilangkan beban hidup, kepenatan, kerisauan, dan kegalauan yang sedang dihadapi oleh para hadirin. Bahkan ceramah tersebut mampu menentramkan dan menyejukkan sanubari para hadirin.

Dalam ceramahnya, menurut catatan penulis, setidaknya beliau mengupas tuntas konsep tentang mahabbah atau cinta kepada Nabi Muhammad SAW, ciri-ciri cinta, fadhilah hingga hukum mencintai Nabi Muhammad SAW. Kyai yang akrab disapa Yi Muslim itu menyampaikan ceramah dengan gaya retorika yang mengesankan dan meyakinkan serta senyuman yang tak henti-hentinya beliau perlihatkan. Wal hasil, gaya tersebut mampu menarik dan memikat perhatian hadirin yang berada di dalam ruangan. Dengan ditemani beberapa kitab, beliau mulai menyampaikan ceramahnya. Beliau menjelaskan bahwa hukum mencintai Nabi Muhammad SAW bagi setiap muslim adalah fardhu ain. “Cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW meniko hukume fardhu ain” tutur Yi Muslim. Artinya, dengan pernyataan tersebut beliau mengajak kepada para hadirin untuk senantiasa menumbuhkan dan meningkatkan kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Tidak lama kemudian beliau mengutip sebuah ayat yang berisi tentang keharusan bagi setiap muslim untuk mencintai Rasulullah SAW (lihat QS. Yunus: 58). Kemudian beliau berpesan kepada bapak/ibu guru untuk selalu mengarahkan putra-putrinya agar mengidolakan Nabi Muhammad SAW. “Panjenengan sedoyo kedah mengarahkan putra-putrinya supados mengidolakan seseorang ingkang jelas, nggih punika Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Ampun ngantos mereka mengidolakan seseorang ingkang mboten jelas statuse” tutur Yi Muslim.

Di tengah keasyikan para hadirin mendengarkan petuah, tiba-tiba mereka disuguhi pertanyaan. “Iki (pengajiannya) sampai jam piro?” tanya Yi Muslim. Hadirin pun menjawab, “nderek Panjenengan, Yi”. Beliau pun akhirnya melanjutkan ceramahnya. “Ya wes sak kuate yaa” tutur Yi Muslim. Panutan masyarakat itu pun kembali asyik berceramah. Beliau menjelaskan bahwa ciri-ciri cinta itu ada dua macam, yaitu selalu ingat dan patuh. Secara ringkas, Pertama, beliau mengajak kepada para hadirin untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad Saw dengan cara memperbanyak membaca selawat maupun membaca sejarah beliau melalui maulid al-Barzanji, Burdah, Simth ad-Duror dan lain sebagainya. “Panjenengan sedoyo kedah ingat Kanjeng Nabi Muhammad Saw, keranten beliau merupakan sosok pemimpin ingkang senantiasa merhatosaken umatnya, bahkan saat beliau hendak tilar dunyo, ingkang diingat nggih punika umatipun” tegas Yi Muslim. Artinya, kecintaan beliau kepada umat-Nya, Harus dibalas umat-Nya pula dengan sebuah kecintaan. Kedua, beliau berpesan kepada para hadirin untuk senantiasa mengikuti, mematuhi dan meneladani perangai, perilaku serta tindakan Nabi Muhammad Saw. Menurut beliau, seseorang dianggap cinta kepada Nabi Muhammad Saw manakala ia benar-benar mengikuti dan tunduk terhadap sabda maupun tindakan-Nya. “Al-Muhibbu liman yuhibbuhu muthi’” ujar Yi Muslim. Artinya, seorang pecinta lazimnya tunduk dan patuh kepada seseorang yang dicinta. Lebih jelasnya, beliau melukiskan seorang laki-laki yang cinta kepada seorang perempuan, tentu ia akan selalu ingat dan patuh kepada perempuan tersebut, bahkan rela melakukan apapun demi membahagiakannya. Keadaan yang demikian itu harus diterapakan dan diimplementasikan pula kepada Nabi Muhammad Saw.

Kemudian pada poin terakhir beliau menjelaskan perihal keutamaan cinta (mahabbah) kepada Nabi Muhammad Saw. “Sinten mawon ingkang nderek bingah atas kelahiran Kanjeng Nabi mongko tiyang niku bakal angsal kabegjan” tegas Yi Muslim sembari ditemani sebuah kitab di depannya. Artinya, Siapapun yang cinta kepada Nabi Muhammad Saw tentu ia akan mendapatkan keberuntungan. Lebih lanjut, beliau menuturkan, bahkan Abu Lahab yang menjadi musuh Nabi Muhammad Saw dan telah dinash celaka dalam Al-Quran lantaran dulu pernah bahagia atas kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara memerdekakan budak yang bernama Suwaibah Aslamiyyah, maka setiap hari senin ia mendapatkan keringanan siksa. Dengan penjelasan tersebut beliau meyakinkan para hadirin, “luweh-luweh panjenengan sedoyo ingkang iman dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Saw, insya Allah angsal syafa’at lan kabegjan ingkang melimpah ruah”. Artinya, Apalagi kalian semua yang beriman kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw, insya Allah mendapatkan syafa’at dan keberuntungan yang melimpah ruah. Di akhir mauidhahnya, beliau mengajak kepada para hadirin untuk memperbanyak selawat dan meneladani perkataan maupun tindakan Nabi Muhammad Saw agar termasuk dalam golongan muhibbin dan diakui umat-Nya. Aamiin

Dalam kesempatan yang berharga ini, penulis mengakhiri tulisan ini dengan menghidangkan sebuah kutipan kata hikmah seorang penyair mahjar bernama Khalil Gibran, “Al-Hub laa yumkin syira’uhu illa bi al-hub”. Artinya, cinta hanya dapat dibeli dengan cinta. Dengan ungkapan lain, cinta itu harus dibalas dengan cinta. Hemat penulis, suatu keharusan bagi setiap muslim membalas cinta Nabi Muhammad Saw. Kepedulian beliau kepada umat-Nya, harus dibalas umat-Nya pula dengan sebuah kepedulian. Kepedulian kepada beliau dapat dibuktikan dengan beraneka ragam cara, salah satunya dengan cara memperingati hari kelahiran beliau, sebagaimana yang telah diselenggarakan oleh Yayasan MTs Al-Ma’had An-Nur. Semoga Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw memberkahi acara yang telah terlaksana beberapa hari lalu tersebut dan meridhoi setiap langkah kita. Aamiin

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR